Minggu, 30 Oktober 2011

IDUL KURBAN, PESAN SPIRIT BUDIDAYA


Oleh : Dadan Wahyudin

Idul Kurban memiliki dimensi spiritualitas sebagai bentuk ubudiah hamba dengan Tuhannya dan aspek sosial saling berbagi antarsesama. Makna Idul kurban mengandung pula ajaran tentang prinsip konservasi begitu sempurna. Pesan lainnya tentang spirit budidaya yang unggul dan sehat.

Bagi Cak Narto - penjual sate di daerah Pantura – apapun jenis pola budidaya ternak tak dirisaukannya. Cak Narto telah terbiasa mencari ternak apkir sebagai bahan baku usahanya. Dibenaknya, ternak apkir jauh lebih murah, toh kalau sudah dikuliti menjadi daging, hasil akhirnya sama yakni daging ternak normal. Tak heran, selain berburu ke pasar hewan, Cak Narto menerima domba apkir, seperti: cacat, kaki patah, atau picak bahkan kondisi sakit.

Standar budidaya

Meski Cak Narto meraup untung berlipat dari model usahanya, tetapi secara normatif cara demikian bukanlah cara elegan. Dalam pembangunan peternakan, penjualan ternak apkir tidak direkomendasikan. Sama halnya Idul Kurban, produk hewan harus memenuhi standar pokok kesempurnaan sesuai ajaran Rasulullah SAW yakni harus sehat, tidak cacat, jantan dan cukup umur. Dalam berkurban, hamba dipacu meraih pahala besar dengan mempersembahkan kurbannya mengacu pada kriteria di atas. Hewan kurban berkualitas baik memiliki postur tubuhnya standar, berpenampilan gagah, kondisi sehat, dan memiliki keutuhan dengan tidak cacat. Profil hewan kurban seperti ini tentu tidak dihasilkan secara kebetulan dan asal-asalan, melainkan dengan proses budidaya dilakukan secara sungguh-sungguh.

Bila dicermati, perilaku konsumsi masyarakat secara umum lebih menyukai produk sapi lokal seperti sapi Ongole, sapi Bali dan sapi Madura dalam berkurban dibanding sapi impor skala perusahaan, seperti: angus, limousine, atau simental. Bobot tubuh sapi lokal berkisar 350-500 kilogram secara ekonomi lebih terjangkau menjadi pertimbangan dalam menentukan pilihan ini. Faktor kedua, tradisi dan selera masyarakat terbentuk selama bertahun-tahun menyebabkan sapi lokal lebih familiar. Meski umumnya kepemilikan sapi lokal merupakan hasil budidaya peternak skala keluarga di pedesaan, produk hewan sehat dan berkualitas baik harus menjadi tujuan dalam budidaya. Sikap adaptif dan akomodatif terhadap inovasi serta membuka diri menjalin komunikasi dengan petugas penyuluh atau sesama peternak diperlukan dalam upaya menambah pengayaan informasi mengenai cara budidaya atau pemasaran yang lebih baik.

Untuk menghasilkan produk sapi dan domba memiliki kualitas sesuai harapan tentu dibutuhkan induk unggul. Pemilihan induk dapat berupa hasil seleksi melalui kegiatan menaksir, kontes ternak, atau merunut silsilah genetik orang tua (pedigree). Kini perbaikan mutu genetik sapi lokal dapat di-upgrade dengan penerapan program inseminasi buatan (IB). Melalui Satuan Pelayanan Terpadu (SPT) atau KUD, peternak memperoleh straw berisi sperma pejantan unggul produksi Balai Inseminasi. Kolaborasi antara petugas inseminator dan kejelian peternak mendeteksi gejala berahi sapi betina miliknya dapat meningkatkan keberhasilan IB dan efesiensi, yakni menekan penghamburan waktu dan tenaga.

Pemberian pakan merupakan faktor krusial keberhasilan budidaya. Kebutuhan pakan menempati cost operasional paling tinggi dalam kegiatan budidaya. Budidaya dalam pembesaran pedet misalnya, tak ubahnya ibarat mesin pabrik. Faktor pakan sebagai input produksi diolah kemudian menghasilkan output berupa penambahan bobot tubuh. Pada alam bebas, komposisi nutrisi secara lengkap telah disediakan alam. Ini dibuktikan bahwa ternak dilepas di padang pengembalaan (pasture) tidak memerlukan pakan tambahan sebagai penguat.

Tetapi pada ternak dibudidayakan dengan pola kereman (dipelihara dalam kandang), sangat tergantung pada pola pakan diberikan. Defesiensi terhadap zat tertentu, mengakibatkan pertumbuhan ternak terganggu. Setiap hari sapi memerlukan pakan 10 persen hijauan dan 1-2 persen pakan penguat dari bobot badannya. Kebiasaan menabung hijauan berupa hijauan kering (hay) dan silase dapat menjadi strategi peternak dalam menyiasati masa paceklik hijauan. Ternak kereman membutuhkan pakan penguat berupa dedak halus, bungkil kelapa, gaplek atau ampas tahu. Di samping itu, memerlukan pakan tambahan unsur mineral berupa garam dapur dan tepung tulang. Pemberian pakan berimbang ini secara signifikan memberikan produk budidaya memuaskan.

aspek kesehatan ternak
Faktor terakhir dalam budidaya yakni pemeliharaan kesehatan ternak. Hewan kurban harus sehat dan terbebas dari penyakit zoonosis menular bagi manusia. Penyakit hewan tidak bisa ditoleransi untuk dikonsumsi adalah apthae epizootika (PMK), bovine spongiform enchephalophaty (BSE/sapi gila) dan anthraks. Pesan ini mengingatkan para peternak dalam melakukan budidaya agar senantiasa memelihara kebersihan ternak maupun sanitasi kandang. Kandang harus memenuhi persyaratan pokok meliputi konstruksi, letak, ukuran dan perlengkapan kandang sehingga memberi rasa aman dan nyaman serta mudah dipantau. Tindakan biosecurity dengan desinfektan mesti menjadi program rutin dalam upaya preventif mencegah penyakit.

Kondisi fisik ternak harus diperhatikan agar senantiasa prima. Pemberantasan ektoparasit, memandikan ternak, pencukuran bulu dan pemberian vitamin harus menjadi bagian pemeliharaan kesehatan ternak. Begitupula sebagai ternak ruminansia, sapi dan domba mudah dijangkiti penyakit cacingan, di mana hijauan sebagai pakan merupakan media kondusif menempel telur cacing dan menjadi parasit di dalam tubuh ternak. Penyakit disebabkan berbagai jenis cacing ini berpotensi menurunkan bobot tubuh ternak dan dapat diberantas dengan pemberian obat cacing secara berkala.
Tindakan pemeliharaan kesehatan lainnya adalah karantina dan vaksinasi. Karantina diperlukan jika terdapat ternak yang sakit, dipisahkan untuk mendapatkan pengobatan. Sementara vaksinasi diberikan untuk memberi kekebalan tubuh (imun) terhadap jenis penyakit tertentu. Vaksinasi mutlak harus diberikan untuk mencegah risiko kerugian yang lebih besar akibat wabah penyakit mematikan.

Idul Kurban telah menjadi spirit dalam melakukan kegiatan budidaya lebih baik dan maju. Pola budidaya berorientasi pada produktivitas, efesiensi dan higienis menandakan suatu keberhasilan pembangunan peternakan khususnya ternak ruminansia. Berkat budidaya bermartabat, bukan saja memperhatikan aspek kesejahteraan ternak (animal welfare) sebagai keniscayaan menghasilkan hewan kurban ideal sesuai syariat, tapi juga memberi kualitas dan rasa aman untuk dikonsumsi manusia. (**)

Penulis, Dadan Wahyudin
Praktisi Peternakan

Sabtu, 27 November 2010

Bekerja sebagai Jurnalis Kampus II


Catatan jurnalis ini, dilakukan untuk mengisi rubrik Majalah InteresT, Fakultas Peternakan Edisi III/April 1994. Penulis diberi tugas untuk meliput dan mewawancarai Pengurus Puskopsi, di mana Pusat Koperasi ini tiba-tiba menjadi buah bibir dalam distribusi persusuan di Jabar. Tadinya mau diliput jadi Tajuk UTama, headlines dengan menampilkan Puskopsi dan GKSI, namun terbatasnya deadline, Penulis tidak sempat mewawancarai Pengurus GKSI, akhirnya rubrik ini dipindah ke Liputan. Catatan ini ditayangkan diblog penulis, untuk mengingatkan Junior di Fapet Unpad bahwa IntersT merupakan Majalah Kampus Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran yang kredibel. Inilah liputan dimuat di Edisi II/Juni 1994

PUSKOPSI : MENGGAIRAHKAN MOTIVASI PETERNAK


Pusat Koperasi Susu Indonesia (PUSKOPSI) tiba-tiba saja menjadi bahan pembicaraan aktual di masyarakat peternakan, terutama di bidang persusuan. Pro dan kontra menyertai kehadirannya. Namun terlepas dari itu, Puskopsi ternyata mampu mencetak prestasi mengesankan, yakni memproduksi 220 ton/hari susu dari total 320 ton/hari produksi Jawa Barat.

Puskopsi didirikan berpijak pada UU Koperasi No. 25 tahun 1992 yang memberikan kesempatan dan keluasaan kepada para koperasi untuk mengembangkan dan meningkatkan bidang usahanya. Bermula dengan pertemuan Forum Komunikasi Bandung Raya, tanggal 21 Oktober 1992 di Ciwidey, perkembangan awalnya Puskopsi tidak menuntut perhatian, tetapi sejak bulan Juni 1993 perkembangannya berlansung semakin cepat dan pesat.

Bila pada perintisannya terdapat tiga KUD, yaitu KPBS Pangalengan, KUD Sarwa Mukti Cisarua dan KUD Pasir Jambu, maka sejak Desember 1993 anggotanya bertambah menjadi 14 KUD. Memang belum banyak jika dibandingkan dengan KUD-KUD berkiprah di bidang persusuan se-Jawa Barat. Namun produksi perharinya telah mencapai 238,7 ton/hari dari total produksi Jawa Barat 320 ton/hari.

Puskopsi berlokasi di Jl. Soekarno-Hatta No. 390 Bandung ini terus berusaha memotivasi para peternak sapi perah. Pelayanan Puskopsi diharapkan benar-benar menyentuh dan dirasakan langsung di tingkat para peternak. Walaupun harga di industri pengolahan susu (IPS) tetap, Puskopsi mampu memberikan kenaikan harga antara Rp 60-140/liter. Sebagai contoh, KUD Pageurageung yang tadinya mematok harga susu Rp. 325,00 meniadi Rp 470,00/liter, atau KUD Cicadas dari Rp. 300,00 menjadi Rp 450,00/liter. Kenaikan ini menurut Pengurus, didapatkan dari pemotongan laba koperasi yang dikembalikan ke dalam harga susu.

Tata niaga yang dilakukan Puskopsi dari peternak ke KUD dan KUD langsung ke IPS. Untuk KUD-KUD yang produksi susunya belum banyak, maka invoice KPBS Pangalengan yang akan mengirimkannya tanpa memungut biaya transpor, atau harga yang akan diterima KUD adalah harga IPS. Dengan demikian langkah demikian diharapkan dapat memberdayakan dan meningkatkan koperasi-koperasi kecil sehingga mampu membiayai diri atau dapat membantu KUD lainnya yang masih lemah.

Selain memberikan harga pembelian susu yang lebih tinggi, Puskopsi memberikan subsidi pakan ternak kepada para peternak bsarnya subsidi ini bervariasi tergantung jumlah produksinya. Harga kosentrat dibeli Puskopsi sekitar Rp 232,00/kg, sedangkan untuk peternak dijual Rp 175,00/kg. Berarti subsidi konsentrat tiap kg-nya adalah Rp 57,00. Untuk produksi susu sekitar 1200-3000 liter, harga konsentratnva Rp 220/kg. Dan tidak ada subsidi untuk produksi susu lebih dari 3000 liter. "Untuk apa memberikan subsidi pada peternak yang sudah besar. Kita alokasikan dana itu buatt peternak lain yang memerlukan," jar Ir.. Muh. Nasrum, Sekretaris II Puskopsi. Selanjutnya Nasrum menjelaskan lebih jauh bahwa dengan menekan cost di peternak dan diimbangi dengan harga produk yang meningkat maka pendapatan peternak akan meningkat pula. Logika sederhananya semakin meningkat pendapatan, maka gairah peternak susu akan meningkat. Inilah yang diharapkan untuk meningkatkan produksi susu menuju ke arah swasembada susu di Jawa Barat, ataupun Indonesia pada umumnya. Hal ini seiring dengan program pemerintah dalam memasuki Pembangunan Jangka Panjang II (PJP II) untuk mengentas kemiskinan, koperasi merupakan ujung tombak dalam menyukseskan program tersebut.



Adanya kebijaksanaan pemerintah mengenai dibukanya kran impor sapi perah oleh koperasi, maka KPBS Pangalengan sebagai anggota Puskopsi terbesar, kali pertama kalinya melakukan impor sapi perah. Impor sapi perah memang menjadi tren di kalangan peternak kita. Sarnpai saat ini memang muncul anggapan bahwa sapi impor akan mampu menjawab tantangan akan meningkatkan produksi susu. Realissasi pemberian ijin pemerintah terhadap KPBS Pangalengan sebanvak 3.500 ekor. Pada tahap I telah datang 1.176 ekor, pada tahap 2 telah datang 1.173 ekor (April '94), dan sisanya akan dipenuhi pada tahap III. Tibanya sapi impor ini ternyata disambut secara antusias oleh anggota PUSKOPSI yang lain.

Alokasi kredit sapi impor dari Selandia Baru ini dilakukan dengan seleksi yang ketat. Arah penyaluran sapi tersebut ditujukan untuk menambah populasi ternak yang dimiliki anggota KUD. Sapi impor itu tidak akan diberikan kepada peternak pemula, namun di prioritaskan berdasarkan prestasi dan kondisi serta keuletan peternak dalam memelihara sapi.

Pelayanan Puskopsi lainnya adalah mengadakan kredit atas pengadaan sapi-sapi lokal. Pelayanan berbentuk teknis kesehatan hewan juga diberikan atas kerja sama dengan BIB Lembang, berupa pengadaan straw dan Nitrogen cair serta obat-obatan.

Memotivasi Peternak
Kehadiran Puskopsi ibarat angin segar yang cukup menjanjikan berbagai perbaikan pendapatan dan kesejahteraan peternak susu dapat menghapus rasa pesimistis mereka. Kehadiran sapi impor bukan saja disambut antusias, lebih daripada itu diharapkan mampu menutupi kekurangan produksi dalam negeri. Memang upaya Puskopsi menghidupkan kembali unit-unit susunya yang telah mati patut dan memberdayakan koperasi lemah patut kita hargai. Tujuan pendiriannya bukan didasarkan atas sentimen atau persaingan tidak sehat dengan Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) yang telah ada sebelumnya.

Ungkapan Ketua KUD Mitra Yasa Pageurageung, Ade Sudja’i seperti dilansir HU. “Pikiran Rakyat”, bahwa prospek usaha persusuan semakin terbuka luas. KUD-nya pernah mengalami kekeliruan manajeman sehingga terpuruk.Tetapi dengan adanya Puskopsi kini menjadi bangkit kembali. Bahkan kualitas susu hasil KUD Mitra yasa mampu di atas hasil KPBS.

Lain lagi menurut Zaenal Arifin yang menyatakan garis kebijaksanaan Puskopsi ini cukup menyentuh, sehingga KUD Tarni Subur Sukabumi merasakan secercah peluang usaha persusuan yang pernah terbengkalai.

Kedudukan PUSKOPSI
Kehadiran Puskopsi tampaknya tidaklah mulus. Apalagi bila kehadiranya dikaitkan dengan koperasi sekunder yang telah ada, yaitu GKSI. Hingga kini belum ada kesepakatan tentang kedudukan Puskopsi. GKSI tetap mempertahankan dan belum menghendaki bahwa di tiap propinsi ditangani oleh Pusat Koperasi, karena cukup ditangani oleh GKSI. Di lain pihak Puskopsi menginginkan GKSI cukup beroperasi di tingkat nasional, sedangkan pelayanan dan operasi¬onal di tingkat propinsi dapat ditangani oleh Pusat Kopeasi. Nasrum mengisyaratkan bahwa Puskopsi diharapkan sebagai kepanjangan tangan GKSI (lihat petikan wawancara). Ketidaksinkronan dan belum terjalinnya komunikasi yang baik kedua lembaga persusuan ini menyebabkan seolah terjadi persaingan tidak sehat dan saling menyudutkan.

Menurut Nasrum, dukungan masyarakat, instansi terkait, maupun pemerintah daerah dan pusat adalah bukti kehadiran Puskopsi telah dirasakan manfaatnya. Hal ini sangat membantu kearah pertumbuhannya. Bahkan Nasrum optimis tidak lama lagi Badan Hukum (BH) akan dikeluarkan oleh DEKOPINWIL akan melegalkan dan mengokohkan lembaganya. Selama ini Badan Hukum Puskopsi yang diajukan tengah digodok di pusat.

Harapan masyarakat peternakan, tentu polemik tak berkepanjangan. Kedua belah pihak (GKSI dan Puskopsi) dapat secepatnya menyelesaikan permasalahan dengan jalan musyawarah dan mufakat. Perbedaan dan konflik yang timbul agar secepatnya di¬selesaikan supaya menghindari turun-tangannya pihak-pihak yang ingin mencari keuntungan di air keruh tersebut. Selanjutnya kembali kepada tujuan utama, yakni meng¬gairahkan motivasi bagi para peternak kita untuk memacu produksi susu sehingga meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan peternak. (**/Dan W. dhien).



WAWANCARA Bersama Ir. Muhamad Nasrum, Sekretaris II Puskopsi

BILA PUSKOPSI SUDAH BER-BH : “HARAPAN SAYA PUSKOPSI ADALAH KEPANJANGAN TANGAN DARI GKSI”

Setelah mengadakan jumpa pers dengan wartawan dari Surabaya Post, Sinar Pagi dan Suara Merdeka, Wartawan InteresT Fapet Unpad, Dadan Wahyudin diberi kesempatan untuk mewawancarai Sekretaris II PUSKOPSI ini. Berikut petikan wawancara:

Interest (Int) : Apa yang melatarbelakangi berdirinya PUSKOPSI?

Muh. Nasrum (Nas): Melihat kondisi Jabar yang potensial, yaitu mampu menyumbang 1,5 Milyar/tahun ke GKSI, dan lebih baik dan propinsi-propinsi lainnya. Sedangkan pelayanan yang diberikan sama dengan yang lainnya, kemudian ironisnya banyak KUD yang mati di propinsi ini. Kenapa banyak yang mati? Karena tidak tergarap. Maka alangkah baiknya di tingkat propinsi mempunyai Pusat Koperasi agar bisa memberikan pelayanan yang lebih cepat dan terjangkau dekat.

Int : Dari mana ide pusat koperasi ini terbentuk, dan bagaimana sejarahnya?

Nas: Saya sebut ini sebagai arus bawah. Dicetuskannya di Ciwidey, tadinya Forum Komunikasi Bandung Raya menyepakati agar jangan berbentuk forum, tapi berbentuk Pusat Koperasi. Mula-mula hanya terdiri atas tiga anggota. Dan sesuai dengan UU Koperasi no. 25/1992, bahwa dengan tiga KUD sudah bisa membentuk diri menjadi pusat koperasi, dan ini dilindungi.

Int : Apa yang menarik sehingga PUSKOPSI dapat begitu cepat mendapatkan anggota dalam jumlah yang banyak?

Nas : PUSKOPSI berusaha untuk menaikkan harga susu di kalangan peternak. Sekaligus berusaha menekan dan menghilangkan beberapa cost yang selama ini membebani para peternak. Tanpa ada kenaikkan di IPS, PUSKOPSI mampu menaikkan harga jual susu antara Rp 60-140/liter. Ini dimungkinkan dari cost yang tidak terpakai dan SHU dikembalikan melalui harga susu yang lebih tinggi. Otomatis para peternak akan lebih memilih koperasi yang harga pembelian ke peternak lebih tinggi.

Int : Bagaimana caranya PUSKOPSI mencari anggota?

Nas: PUSKOPSI tidak mencari anggota. Tetapi mereka sendiri yang datang kepada kami, setelah melihat pelayanan kami ternyata lebih baik.

Int: Ada berita bahwa KPBS sebagai anggota PUSKOPSI telah menyerobot anggota koperasi lainnya di Lembang. Bagaimana tanggapan Bapak?

Nas: Tidak benar. Justru mereka yang mengajukan diri sebagai anggota setelah melihat pelayanan kami. Mereka mengajukan diri sebagai anggota luar biasa KPBS, sehingga mereka bisa menjadi anggota PUSKOPSI. Apalagi UU No. 25/1992 sudah tidak lagi membatasi adanya wilayah-wilayah dalam mendirikan koperasi. Jadi wajar saja tangki-tangki KPBS dapat berkeliaran di daerah Lembang, misalnya untuk melayani anggota luar biasa KPBS. Kalau toh, harga di KPSBU Lembang lebih bagus di atas Rp 500, maka KPBS juga rela melepaskannya. Untuk apa jauh-jauh kalau di daerahnya sendiri sudah harga susu yang memadai.

Int: Melihat PUSKOPSI sudah luas jangkauannya, bagaimana tanggapan Pemerintah Daerah dan instansi terkait?

Nas : Pemda Jabar cukup mendu¬kung. Sebenarnya DEKOPINWIL juga mendukung. Hubungan antara PUSKOPSI dengan pemerintah, khususnya KANWILKOP juga baik. Walaupun nanti Badan Hukum turun dari KANWILKOP, namun sekarang tengah digodok di Pusat. Dan nantinya kita terus dibina oleh mereka.

Int: Bagaimana harapan bapak bila Badan Hukum itu dikeluarkan, berikut tentang kedudukan PUSKOPSI itu sendiri?

Nas: Harapan saya, "PUSKOPSI sebagai kepanjangan tangan dan GKSI. Dan GKSI menjadi Induk Koperasi Tingkat Nasional, sedangkan PUSKOPSI berada pada tingkat propinsi. Selanjutnya di bawahnya adalah KUD/KUD. Harapan dan pola yang dilakukan oleh PUSKOPSI sekarang ini adalah ikut memberikan andil dalam membantu program pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan.

Int: Bila Badan Hukum sudah keluar nanti, apakah kedudukan PUSKOPSI masih tetap di bawah GKSI?

Kami masih mengharapkan GKSI menjadi induk. Tapi kalau GKSI bersikeras berkedudukan di propinsi, kami juga tidak akan memaksakan. Kita akan berjalan bersama-sama. Kemitraan, atau apa namanya, yang penting dapat melindungi kepentingan peternak. Itu yang harus diutamakan. (**/Dan. W. dhien)

Tulisan ini dimuat di InteresT Edisi II/1994

Kamis, 25 November 2010

Bekerja sebagai Jurnalis Kampus


Laporan jurnalis ini saya lakukan pasca mengikuti kegiatan Napaktilas Resimen Mahasiswa Tingkat Nasional di Universitas Jenderal Soedirman dalam Rute Gerilya Tentara Pelajar selama 4 hari dari Banjarnegara-Banyumas berakhir di Kampus Unsoed, Grendeng, Purwokerto bulan Maret 1995.

Bila awalnya naik bus dari Cicaheum - Cirebon - Tegal -Purwokerto, pas pulangnya naik melalui jalur selatan via Ciamis - Tasik. Saya minta turun di daerah Cikoneng sekitar pukul 16.00. Langsung naik ojeg menuju kediaman Pak Daryo, Ketua Kelompok Pakujajar. Inilah laporan dimuat di Majalah InteresT, Edisi 4/1995.


PAKUJAJAR UPAYA MENGENTASKAN KEMISKINAN MELALUI AYAM BURAS

Posted on May 19, 2010 by dadanwahyudinonline

oleh : Dadan W. Dhien

Kelompok Pakujajar mampu menarik perhatian masyarakat peternak, instansi hingga Komisi VII DPR RI pernah mengunjunginya. Berbagai prestasi pernah diraihnya dalam mengembangkan budidaya ayam buras. Wartawan InteresT, Dadan W. dhien menyambangi langsung lokasi kelompok peternak ini.

Adalah Kelompok Peternak ayam buras, terletak di dusun Kadupugur, Desa Gu­nung Cupu, Kec. Cikoneng Kab DT. II Ciamis. Bermula dari keinginan Bapak Daryo dan beberapa rekannya untuk mengembangbiakan ayam buras untuk mengisi waktu luang di sela-sela bertani. Alasan ini logis, mengingat sehabis pekerjaan di sawah/ladang masyarakat tidak melakukan aktivitas lagi. A­palagi bila padi sudah lepas penyiangan, maka hari-hari panjang penuh penantian ba­gi petani dan lebih banyak lagi waktu luangnya. Kegiatan ini bermanfaat untuk meningkatkan penda­patan perkapita masyarakat.

Awalnya, pemeliharaan dilakukan secara sederhana dan bertahap. Kandang-kan­dang terbuat dari bambu mengisi pekarangan rumah-­rumah anggota. Arah pemeli­haraan tidak ditujukan untuk produksi daging, namun ditujukan untuk mensuplai kebutuhan telur, DOC (anak ayam sehari) dan ternak bibit.

Seleksi terhadap bibit diarahkan pada peningkatan produksi telur secara maksimal. Oleh karena itu, kelompok ini sangat meng­hindari perkawinan silang yang menghambat produksi telur, seperti blasteran deng­an ayam pelung, ayam bang­kok, ayam kate dll. Seleksi lain, ayam buras terpilih yakni ayam-ayam mam­pu bertelur di atas 14 butir.

Keberhasilan kelompok i­ni dalam mengembangkan usaha ini tak lepas dari tatacara pemeliharaan. Konsumsi ra­nsum yang diberikan untuk dewasa 80 gr/ekor/hari de­ngan format perbandingan layer : dedak adalah 1:3 untuk kandang battere, dan 1:5 untuk kandang ren. Untuk dara 60 gr/ekor/hari dengan ratio (grower:dedak = 1:3) dan anak ayam 20 gr/ekor/ hari starter penuh. Selain itu pem­berian hijauan 10-20% dan pakan yang diberikan dan pemberian lancang (kerang) kira-kira 10% setelah ber­produksi.

Untuk mengatasi wabah penyakit tetelo, lebih di­tekankan pada tindakan preventif dengan vaksinasi berkala. Pola 4-4-4 diterapkan ke­lompok ini. “Daripada rugi 20 ekor mati semua, saya sarankan agar menjual 1-2 ekor anak ayam untuk beli vaksin”, ujar Daryo S kepada InteresT. Selanjutnya ia menje­laskan urgensinya vaksinasi, meskipun ayam kurang dari batas minimal, 100 ekor, vaksinasi harus tetap dilaksanakan. Agar efektif, anggota bergabung, sehingga vaksin dibeli tidak terbuang percuma.

Produksi telur merupakan prioritas tujuan produksinya, yakni menghasilkan telur tetas maupun telur konsumsi. Berbeda dengan ayam ras, ayam buras masa bertelur pendek dan sifat mengeramnya tinggi. Hal ini disiasati dengan memberi perla­kuan mengatasi kendala tersebut yaitu dengan me­mandikan lalu menjemur kira-kira 2 hari. Setelah itu dimasukan kandang ren bersama-sama pejantan un­tuk merangsang aktifitas hormonal. Ayam pun dapat segera bertelur kembali pada 5-10 hari dengan ransum yang ba­ik.

Efiensi produksi akan sangat tergantung pada kalkulasi berupa kon­versi makanan dan biaya-biaya produksi lainnya. Bi­aya produksi perhari dikeluarkan Rp.40/ ekor. Untuk ayam yang bertelur 2-3 hari sekali masih dipertahankan walaupun ke­untungan relatif kecil. Di atas itu, terpaksa ayam diapkir. (**/dan)

InteresT, Majalah Fakultas Peternakan, Unpad, Edisi 04/1995

Bekerja sebagai Jurnalis Kampus I


Laporan jurnalis ini saya lakukan pasca mengikuti kegiatan Napaktilas Resimen Mahasiswa Tingkat Nasional di Universitas Jenderal Soedirman dalam Rute Gerilya Tentara Pelajar selama 4 hari dari Banjarnegara-Banyumas berakhir di Kampus Unsoed, Grendeng, Purwokerto bulan Maret 1995.

Bila awalnya naik bus dari Cicaheum - Cirebon - Tegal -Purwokerto, pas pulangnya naik melalui jalur selatan via Ciamis - Tasik. Saya minta turun di daerah Cikoneng sekitar pukul 16.00. Langsung naik ojeg menuju kediaman Pak Daryo, Ketua Kelompok Pakujajar. Inilah laporan dimuat di Majalah InteresT, Edisi 4/1995.


PAKUJAJAR UPAYA MENGENTASKAN KEMISKINAN MELALUI AYAM BURAS
Posted on May 19, 2010 by dadanwahyudinonline

oleh : Dadan W. Dhien

Kelompok Pakujajar mampu menarik perhatian berbagai pihak masyarakat, instansi hingga Komisi VII DPR RI pernah mengunjunginya. Berbagai prestasi pernah diraihnya dalam mengembangkan ayam buras.

Adalah Kelompok Peternak ayam buras, terletak di dusun Kadupugur, Desa Gu­nung Cupu, Kec. Cikoneng Kab DT. II Ciamis. Bermula dari keinginan Bapak Daryo dan beberapa rekannya untuk mengembangbiakan ayam buras untuk mengisi waktu luang di sela-sela bertani. Alasan ini logis, mengingat sehabis pekerjaan di sawah/ladang masyarakat tidak melakukan aktivitas lagi. A­palagi bila padi sudah lepas penyiangan, maka hari-hari panjang penuh penantian bakal menyergap petani, di mana hari-hari dilalui hampir tanpa income, sementara biaya hidup harus tetap dikeluarkan. Upaya ini secara signifikan dapat meningkatkan penda­patan perkapita masyarakat.

Awalnya, pemeliharaan dilakukan secara sederhana dan bertahap. Kandang- kan­dang terbuat dari bambu mengisi pekarangan rumah-­rumah anggota. Arah pemeli­haraan tidak ditujukan untuk produksi daging, namun ditujukan untuk mensuplai kebutuhan telur, DOC dan ternak bibit.

Seleksi terhadap bibit diarahkan pada peningkatan produksi telur yang pada maksimal. Oleh karena itu, kelompok ini sangat meng­hindari perkawinan silang yang menghambat produksi telur, seperti blasteran deng­an ayam pelung, ayam bang­kok, ayam kate dll. Seleksi lain untuk ayam buras pete­lur adalah ayam-ayam mam­pu bertelur di atas 14 butir.

Keberhasilan kelompok i­ni dalam mengembangkan usaha ini tak lepas dan cara pemeliharaan. Konsumsi ra­nsum yang diberikan untuk dewasa 80 gr/ekor/hari de­ngan perbandingan layar : dedak adalah 1:3 untuk kandang battere, dan 1:5 untuk kandang ren. Untuk dara 60 gr/ekor/hari dengan ratio (grower:dedak = 1:3) dan anak ayam 20 gr/ekor/ hari starter penuh. Selain itu pem­berian hijauan 10-20% dan pakan yang diberikan dan pemberian lancang (kerang) kira-kira 10% setelah ber­produksi.

Untuk mengatasi wabah penyakit tetelo, lebih di­tekankan pada pencegahan dengan vaksinasi berkala. Pola 4-4-4 diterapkan ke­lompok ini. “Daripada rugi 20 ekor mati semua, saya sarankan agar menjual 1-2 ekor anak ayam untuk beli vaksin”, ujar Daryo S kepada Interest. Selanjutnya menje­laskan perlunya vaksinasi, meskipun ayam kurang dari 100 ekor. Caranya anggota bergabung, sehingga vaksin tidak terbuang percuma.

Produksi telur mendapat prioritas tujuan produksinya baik telur tetas maupun telur konsumsi. Berbeda dengan ayam ras, ayam buras masa bertelur pendek dan sifat mengeramnya tinggi. Perla­kuan yang dilakukan di Pakujajar yaitu dengan me­mandikan dan menjemur kira-kira 2 hari. Setelah itu dimasukan kandang ren bersama-sama pejantan un­tuk merangsang aktifitas hormonal. Ayam dapat bertelur kembali pada 5-10 hari dengan ransum yang ba­ik.

Efiensi produksi akan sangat tergantung pada kon­versi makanan dan biaya-biaya produksi lainnya. Bi­aya produksi perhari Rp.40/ ekor. Untuk ayam yang bertelur 2-3 hari sekali masih dipertahankan walaupun ke­untungan relatif kecil.

InteresT, Majalah Fakultas Peternakan, Unpad, Edisi 04/1995

Selasa, 23 November 2010

Keluarga Besar Gazelle 1991 Fapet Unpad




Keluarga Besar Gazelle 1991

Jatinangor, Agustus 1991 menjadi momen istimewa bagi mahasiswa Gazelle 1991 Fapet Unpad dimana untuk pertama kalinya kita berjumpa. Masa Bimbingan intensif selama satu minggu, dan Mabim ekstensif selama 3 bulan telah menyatukan mahasiswa dari Medan di ujung barat hingga Sidoarjo di timur.

Selain masa kuliah kebersamaan kita pun tercipta begitu dikasih tugas, waah solidaritas kawan-kawan terbangun, terbukti pada keroyokan nyontekkkk.... Ada juga KKL di Bantarujeg dan Lemahsugih, Majalengka, terus KKN, terus PKL dan penelitian. Wahhh manis juga kawan yah....Banyak kejadian lucu dan indah.

Mungkin sebagian mengalami masa suram, akibat putus cinta, dimaki dosen, ditagih kasir munggaran ha ha ha ....

Karakter khas kawan-kawan di bawah ini bakal membawa Anda ke relung bawah sadar setting tahun 1991- s.d. selesai. Ada suka melamun, ada doyan ngerumpi, nongkrong di kafe, nangkel beus kota, ngajul gedang, bikin copet (celotehan fapet), nangkring di kandang unggas, suka melucu, suka nyontek, suka main catur jawa saat kuliah, bahkan suka tidur saat kuliah ha ha....

Yang jelas, bagi yang masih punya utang he he .. harus dibayar hehe



Kucoba mengingat, 121 orang Alumni Gazelle 1991

1. Achjat Djohar,(asal Jombang)
2. Ahmad Firman, (Cijerah-Bdg)
3. Adi Mulyawan, (Pemalang)
4. Akhmad Fauzi, (Tegal)
5. Ahmad Sohib, (Cirebon)
6. Aida Novianti, (Tegal)
7. Ambar Nuswantara, (Majalaya)
8. Amerina Febriyanti, (Jakarta)
9. Andre Rivanda Daud, (Dago-Bdg)
10. Andro Prihastowo, (Jakarta)
11. Aris Munandar,(Serang)
12. Asep Rubaman, (Ciwastra-Bdg)
13. Asep Setiawan,(Sumedang)
14. Asep Suharna,(Awiligar-Bdg)
15. Asep Syafrudin, (Sumedang)
16. Ashari, (Sukajadi-Bdg)
17. Asik Marsudi, (Slawi)
18. Ayep Supriatna, (Tasikmalaya)
19. Boy Arief Rochman,(Bandung)
20. Budi Mulyanto Sarmito, (Majalaya)
21. Christina Kurniasih,(Jakarta)
22. Cucu Hidayat, (Sukaasih-Bdg)
23. Currie Wangsanegara, (Jakarta)
24. Dadan Wahyudin, (ujungberung-Bdg)
25. Dadang Wahyudin, (Parmindo-Bdg)
26. Dedeh Hamidah, (Majalaya)
27. Deden Darmawan, (Sumedang)
28. Dedi Sunardi, (Sumedang)
29. Benni Perlindungan Sagala, (Medan)
30. Diansyah Komara, (Sumedang)
31. Dwiharyanto Sulistiyo, (Bandung)
32. Editha Roslina Goeltom, (Jakarta)
33. Ella Agustina, (Dago-Bdg)
34. Elman Nugraha, (Dago-Bandung)
35. Elsen Adhytia, (Bandung)
36. Erlina Dalisaputra, (Sukamiskin-Bdg)
37. Fajar Pratiwi, (Kopo-Bdg)
38. Farida Kulsum, (Solo)
39. Fetty Isbanon, (Jakarta)
40. Fitman Darmawan,(Sumedang)
41. Gede Bagus DTR., (Jakarta)
42. Grace Mintin Palayukan, (Jakarta)
43. Heni Susanawati, (Bandung)
44. Heni Tejawati, (Bandung)
45. Heru Witjaksono, (Tegal?)
46. Heru Yudistira, (Sidoarjo)
47. Hery Mardijady, (Indramayu)
48. Ibnu Sofa Jauhari, (Bandung)
49. Ida Riyani, (Bandung)
50. Iman Saputrawijaya, (Ciparay-Bdg)



51. Imam Wahyudin, (Bandung)
52. Indar Faraid Hasan, (Bandung)
53. Indiraning Nurkristina, (Bandung)
54. Intan Riyani, (Bandung)
55. Irwan Ridwan, (Bandung)
56. Jajang Gumilar, (Rancaekek-Bdg)
57. Joko Indarto, (Dago-Bdg)
58. Karlina Risani Paath, (Bandung)
59. Khairul Razki, (Jakarta)
60. Kustiwa,(Tasikmalaya)
61. Laela Puryanti, (Garut)
62. Mezza Fardian, (Bangka)
63. Marnala Kristina S., (Medan)
64. Mauludin, (Cimareme-Bdg)
65. Mina, (Jakarta)
66. Moh. Nashrul Septiadi, (Cikutra-Bdg)
67. Muhammad Musbah, (Semarang)
68. Muhammad Josef Hamzah,(Tasikmalaya)
69. Nadyani Marzuki (Jakarta)
70. New Firman, (Bandung)
71. Nunung Nurhasanah, (Bandung)
72. R. Hapid Prawirakoesoemah, (Sumedang)
73. R. Nik Nik Nurkaniya, (Bandung)
74. Rachmat Chusna Djumchair, (Andir -Bdg)
75. Rd. Galur Guratnagara, (Dago-Bdg)
76. Redy Mulyadi, (Bandung)
77. Reni Marina, (Bandung)
78. Rika Herawati, (Bandung)
79. Rika Nursanti, (Payakumbuh)
80. Rina Herlina, (Bandung)
81. Rina Susveriana, (Bandung)
82. Ruth Lenggana Paulina Pane, (Jakarta)
83. Shinta Arialysya, (Bandung)
84. Sinaga Ondo Karya Haposan, (Parmindo-Bdg)



85. Siti Rochani, (Dago-Bdg)
86. Slamet Yudho Kusworo, (Cinunuk-Bdg)
87. Sonny Rizqi Ardiansyah, (Bandung)
88. Suhendra, (Jakarta)
89. Sukmadi, (Jatibening-Bekasi)
90. Suriana, (Bangka)
91. Sutji Justitia H., (Bandung)
92. Toto Marwoto, (Buahbatu-Bdg)
93. Teddy Wuryanto, (Purwakarta)
94. Tedja Sukmahidajach, (Cisaranten-Bdg)
95. Tri Aminatun, (Yogyakarta)
96. Trianto,(Jakarta)
97. Vavirya Sofi A., (Bandung)
98. Wasmidin, (Blanakan, Subang)
99. Wisnu Mustafa, (Jakarta)
100. Yan Yan Hendrawan Mulyana P., (Sumedang)
101. Yani Mulyani, (Bandung)
102. Yeni Asmiati, (Dago-Bdg)
103. Yoga Umbara. (Bandung)
104. Henry Ardi (Bandung)
105. Ardhi Krisnawadhana (Bandung)
106. Abdullah Sungkar (Solo)
107. Uus Aryanto (Sumedang)
108. Iswandani (Bandung)
109. Kunkun Kurniawan (Bandung)
110. Satrio Adiprakoso (Dago-Bdg)
111. Saptono (Jakarta)
112. Yanto Aryanto (Garut)
113. Didin (Dago-Bdg)
114. Jajang Johari (Sumedang)
115. Heri Santoso (Dago- Bdg)
116. Andi Reviandi (Dago-Bdg)
117. Ganda Parulian (Bandung)
118. Hadi (Jakarta)
119. Elin (NPm 110)
120. Yang belom pernah masuk (NPM 007
121. Engkos Koswara (Elang-Bdg)



Langkah kehidupan terus berjalan. Roda zaman terus menggilas sang waktu. Kontribusi dan kiprah kita dinanti bagi masyarakat, tanpa harus menanggalkan segala kebersamaan pernah kita rajut dan lewati.

Bravo Gazelle 1991. (**)

Blogger,

Dadan wahyudin

Rabu, 25 November 2009

Forum : Idul Kurban, Konservasi Sempurna



 Dokumentasi Kompas Lembar Jawa Barat, Rabu, 25 November 2009 |

Oleh DADAN WAHYUDIN

Mati satu tumbuh seribu,
Induk mati, hilang seribu


(Pepatah kedua dibuat penulis untuk menggambarkan secara gamblang tentang prinsip-prinsip konservasi dalam ritual Idul Kurban)


Sejatinya, alam semesta berjalan teratur sesuai hukum Sang Pencipta. Kelahiran dan kematian makhluk hidup yang silih berganti adalah fenomena lumrah. Antara makhluk hidup dan lingkungan pun terjalin kerja sama yang saling membutuhkan dan melengkapi sehingga terbina harmoni. Sayangnya, keseimbangan itu terusik tatkala manusia terlibat di dalamnya. Sifat rakus manusia (greedy) tanpa terkendali telah berbuah kerusakan alam dan punahnya spesies tertentu.

Idul Kurban telah lama mengajarkan prinsip-prinsip konservasi, yakni ajaran bagaimana memanfaatkan sumber daya alam secara proporsional tanpa disertai perusakan. Ajaran penuh kearifan dan kebijakan menjangkau jauh ke depan (futuristik) dengan memerhatikan dan terus berbagi manfaat dengan generasi mendatang. Prinsip-prinsip itu juga diyakini telah melindungi eksistensi hewan kurban turun-temurun, dari zaman para nabi hingga kini.

Aspek reproduksi

Hewan betina tidak termasuk kriteria untuk hewan kurban. Pemotongan sapi atau domba betina produktif secara signifikan bakal menguras drastis populasi ternak potong di suatu daerah. Dalam usaha peternakan, hewan betina dijuluki "mesin uang" produktif. Pada unggas petelur, induk dapat memproduksi telur konsumsi setiap hari. Sementara ternak perah, selain menghasilkan anak, juga memproduksi susu setiap pagi dan sore sebagai pendapatan peternak.

Hewan betina merupakan mata rantai strategis dalam mempertahankan populasi. Kematian satu induk berimplikasi putusnya silsilah keturunan berikutnya. Produktivitas hewan betina dapat tecermin pada ilustrasi berikut ini. Seekor domba betina mencapai usia dewasa dan dikawinkan pertama kali pada umur 10-12 bulan. Pada tahun kedua, induk akan melahirkan setelah melewati masa kebuntingan selama 147 hari.

Tiga bulan kemudian anak domba disapih dan induk siap dikawinkan lagi. Itu berarti dalam dua tahun, induk beranak tiga kali. Jika angka litter-size (rata-rata anak per kelahiran) 1,67, selama enam tahun (masa produktif induk domba) bakal diperoleh 15 ekor anak. Populasi ini bakal berlipat ganda manakala anak betina yang dilahirkan pertama (asumsi kelahiran jantan dan betina 50 persen : 50 persen) pada tahun ketiga telah menjadi induk. Begitu pun anak betina dilahirkan pada tahun ketiga, keempat, dan seterusnya segera menjadi induk dan beranak pinak. Luar biasa!

Fenomena tersebut menginspirasi pokok-pokok pembangunan dan konservasi di bidang peternakan. Upaya melindungi induk produktif diadopsi dalam Staat Blaad tahun 1920 dan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1967 tentang Pokok-pokok Peternakan dan Kesehatan Hewan. Namun, pemerintah perlu lebih intensif melakukan sosialisasi kepada peternak dan melakukan pengawasan terhadap rumah potong hewan (RPH). Langkah antisipatif ditempuh, yakni mengembalikan atau membeli induk masih produktif yang dijumpai di RPH untuk dikembangbiakkan kembali. Adapun rencana ekspor bibit sapi bali ke luar negeri seyogianya ditinjau ulang. Ini dilakukan demi melindungi agar populasi sapi unggulan dalam negeri tetap terjaga.

Kita beralih mencermati fungsi seksual hewan jantan. Pada pembibitan ternak potong normal, perbandingan antara jantan dan betina (sex ratio) adalah 1:5 untuk sapi dan 1:10 untuk domba. Satu sapi jantan diberi tugas melayani lima ekor betina. Maka, dipastikan empat ekor jantan lain terkena apkir. Begitu pun pada domba jantan, bakal ada sembilan ekor tersisih.

Fungsi reproduksi hewan jantan semakin tereduksi oleh kehadiran program inseminasi buatan (IB). Pada program IB, perkawinan alami digantikan oleh simulasi perkawinan buatan (artificial) dengan alat berupa pipet (insemination gun). Peternak tidak perlu mengeluarkan ongkos pemeliharaan hewan jantan lagi karena fungsi pemacek telah diambil alih oleh semen beku (frozen semen) bergenetik unggul yang diproduksi balai inseminasi. Hewan jantan pada program embrio-transfer pun benar-benar pejantan unggul hasil seleksi. Bahkan, fertilisasi teknologi kloning, seperti kasus domba Dolly, ternyata mengesampingkan fungsi sel gamet jantan sama sekali.

Tingginya hewan jantan apkir secara reproduksi mengakibatkan orientasi pemeliharaannya lebih difokuskan sebagai penghasil daging. Yang memenuhi pokok ketentuan syara' dijadikan hewan kurban. Ini terkait erat perintah Rasulullah SAW bahwa hewan kurban disyariatkan berkelamin jantan bukan betina.

Berkesinambungan


Adanya batasan aspek umur (musinnah) memiliki signifikansi dalam menjaga kelestarian populasi hewan kurban. Dalam riwayat Muslim, dari Jabir bersabda Rasulullah SAW, "Jangan kamu menyembelih untuk kurban, melainkan musinnah (telah tanggal gigi) kecuali jika sukar didapat, sembelihlah jadz'ah (berumur 8-9 bulan) dari kambing/domba."

Pengertian musinnah mengacu pada istilah dewasa tubuh, yang pada hakikatnya memberi kesempatan hewan muda tumbuh secara optimal sehingga memiliki kuantitas dan kualitas daging terbaik. Keistimewaan performa ini sangat bermakna bagi hamba dalam menyempurnakan ibadah kurbannya.

Eksploitasi ternak dalam ibadah kurban sungguh berbeda dibandingkan dengan pemotongan yang sama oleh penjual sate atau konsumsi biasa. Eksploitasi ternak untuk daging konsumsi memungkinkan menggerus ternak berbagai kelompok umur, jenis kelamin, dan aneka kondisi. Mereka tidak peduli umur ternak apakah pedet atau cempe; kondisi sehat, sakit, atau cacat; juga berkelamin jantan atau betina. Bisa dibayangkan ketika kebutuhan konsumsi memuncak, eksploitasi besar-besar tidak terelakkan. Jika tidak diimbangi revolusi pembibitan (breeding) memadai, dapat dipastikan populasi ternak binasa dalam waktu singkat.

Namun, Idul Kurban tidak, berapa pun hewan kurban yang dipotong. Kelestarian hewan bakal senantiasa terjaga. Ini berkat adanya proteksi terhadap induk sehingga leluasa berkembang biak.

Pertumbuhan anak-anak hewan kurban tidak terganggu. Di Idul Kurban berikutnya, pedet atau cempe mencapai usia dewasa (musinnah) sekaligus sebagai stok hewan kurban baru.

Begitulah seterusnya. Siklus itu berputar dalam keniscayaan. Perlindungan, rasa nyaman tumbuh-kembang, dan ketersediaan berkesinambungan itulah konservasi yang sempurna!

Penulis, DADAN WAHYUDIN
Praktisi Peternakan

Rabu, 28 Januari 2009

Sekaligus Mengawini 800 Betina


oleh: Dadan Wahyudin
(Artikel ini dimuat di majalah Intisari - Gramedia - Edisi September 2002 hal 98-104)

OLIVIA II mampu mengawini 800 ekor betina dalam sekali ejakulasi. Nama boleh feminim, tapi inilah sapi pejantan super bangsa Ongole di Balai Inseminasi Buatan (BIB) Lembang yang dipelihara bersama pejantan lainnya seperti: Orlando, Badranaya, Hackett, Tedong Bona, dan juga Hunter. Mereka memang dipelihara untuk memperbaiki mutu genetik sapi di pelosok Nusantara.

Sapi dan kerbau di BIB Lembang, Jawa Barat merupakan para pejantan unggul yang terpilih melalui seleksi ketat. Mereka berasal dari segala penjuru Nusantara, seperti: NTT, Sulsel, Sumut, Bali, Jateng, Jatim, Jabar bahkan sebagian lagi sengaja didatangkan dari Belanda, Kanada, Australia dan Selandia Baru.

Begitu terpilih, mereka memiliki acara dan kegiatan rutin yang ketat bak di asrama. Misal, setiap pagi dimandikan sementara kandangnya dibersihkan oleh petugas. Sebelumnya mereka menikmati menu sarapan pagi berupa konsentrat sebanyak 5 kg per ekor. Usai mandi, sudah tersedia cacahan rumput gajah segar. Sekitar pukul 14.00, mereka santap siang lagi.

Seminggu sekali seusai diambil semennya (semen = sperma plus cairannya), untuk memulihkan kondisi agar selalu prima, pejantan menikmati tinggal di alam bebas selama sehari semalam di lintasan kabel yang disebut line-bull. Di padang rumput mereka memperoleh ruang gerak leluasa, sinar matahari penuh dan rumput afrika secara tak terbatas. Secara berkala, mereka mendapatkan layanan kesehatan berupa vaksinasi, timbang badan, pemberian hormon dan vitamin, pemotongan kuku dan tanduk, pemberantasan ektoparasit, dsb.

Dibalik performa tubuh tegap dan gagah, kualitas sperma memegang peranan penting untuk meraih kelayakan sebagai penyandang predikat superbull. Selain berpostur menawan, para pejantan berbobot 800 -1.350 kg ini juga memiliki kualitas sperma berkualitas prima sehingga layak disebut pejantan super negeri ini. Sperma mereka itulah yang kelak akan memperbaiki keturunan ternak sapi di seluruh Nusantara lewat program inseminasi buatan (IB).

Tertipu vagina buatan

Suhu udara kota kecil Lembang di kawasan Bandung Utara cukup menggigil di pagi hari. Usai mandi sesuai jadwal tertera, para pejantan siap diambil semennya, yang biasanya dilakukan seminggu sekali.

Semen pejantan ditampung dengan menggunakan vagina buatan (artificial vagina/AV) yang dibuat menyerupai kondisi aslinya. Vagina buatan berupa selongsong karet bagian dalam (inner liner) yang dimasukan dalam silinder tebal. Tabung sperma ditautkan pada ujung corong karet itu. Air hangat bersuhu 40-48 derajat celcius dimasukkan pada lubang ventilasi. Kemudian tekanan diatur dan so pasti ditambahkan pelicin berupa vaselin. Vagina buatan pun siap digunakan untuk mengelabui para pejantan dan merupakan simulasi sempurna dari perkawinan alam.

Untuk memnacing birahi si penjantan hingga mengeluarkan semennya, biasanya digunakan teaser (hewan pemancing). Uniknya di BIB Lembang, teaser bukanlah sapi betina tapi sapi jantan juga. Dengan tangan siap memegang vagina buatan, petugas penampung semen harus sabar menunggu pejantan ereksi dan menaiki teaser. Juga mesti hati-hati agar tidak ditanduk. Begitu si pejantan benar-benar libidonya meningkat dan bersemangat menaiki teaser, praeputium (kulup) segera digenggam dan ujung penis dimasukkan ke dalam vagina buatan. Dalam waktu relatif singkat, semen pejantan pun menyembur dan tertampung dalam tabung penampung semen. Sial, betul mereka. Pagi-pagi sudah tertipu dua kali.

Pengolahan semen

Semen yang sudah ditampung kemudian dibawa ke laboratorium. Soalnya, sperma yang ada dalam semen itu cukup sensitif terhadap sinar matahari, goncangan atau perubahan suhu ekstrim. Pemeriksaan pertama secara makroskopik dilakukan meliputi bau, volume, dan derajat kekentalan. Diteruskan dengan uji mikroskopik meliputi gerakan massa, motilitas dan konsentrasi (jumlah) sperma.



Selanjutnya semen yang memenuhi syarat (baca pula : Sperma dalam Angka) diencerkan dengan bahan pengencer. Penambahan pengencer diharapkan mampu menambah volume, menyediakan nutrisi untuk spermatozoa, melindungi dari kejutan dingin (coldshock) juga sekaligus bisa mencegah pertumbuhan kuman. Karena sperma dalam cairan semen cukup peka terhadap perubahan suhu, jika suhu diturunkan drastis, mereka akan mengalami shock dan berujung kematian.

Di Laboratorium BIB Lembang, semen dicampur dengan Part A primer yang disiapkan dalam water jacket dengan temperatur 37 derajat celcius dan disimpan dalam lemari inkubator (minimal satu jam sebelum dicampurkan). Setelah dicampurkan, semen disimpan dalam cold top bersuhu 4-5 derajat celcius selama 35 menit sambil menurunkan suhu semen secara perlahan-lahan kemudian bila suhu telah sama segera lepas dari water jacket.

Setelah 50 menit dicampurkan lagi dengan Part A ekstra. Pencampuran dengan Part B (gliserolisasi) dilakukan secara bertahap sebanyak empat kali, masing-masing 1/4 dengan selang waktu 15 menit di dalam cold top. Tiga jam setelah pencampuran dengan Part B selesai (atau lima jam dari Part A), semen diisikan ke dalam kemasan straw (seperti jerami plastik) dengan menggunakan alat Filling and Sealing Machine.

Semen dibekukan

Begitu dibekukan, semen dapat tahan hidup lama dan bisa didistribusikan tanpa terhambat oleh jarak dan waktu. Sperma dalam straw kemudian disimpan dalam rak dan dihitung. Secara perlahan suhu diturunkan dengan mengangin-anginkan straw pada suhu minus 110-120 derajat celcius selama 9 menit. Untuk mendapatkan suhu serendah itu, rak straw ditempatkan 4 cm di atas permukaan Nitrogen cair. Selanjutnya dibekukan dengan cara dibenamkan dalam storage container bersuhu minus 196 derajat celcius untuk pemakaian dalam waktu tidak terbatas.

Semen beku disimpan dalam storage container yang didalamnya terdapat 78 canister (semacam kaleng kecil). Tiap canister terdiri atas tiga goblet (semacam gelas) dan setiap goblet berisi 550-750 straw. Dengan demikian, setiap storage container mampu menampung 150.000 dosis straw mini dalam rendaman 210 liter Nitrogen cair. Untuk memudahkan pencatatan, masing-masing canister diberi nomor untuk lokasi. Sedangkan identitas breed pejantan dibedakan berdasarkan warna straw.

Untuk mengetahui kelayakan semen beku, sebelum berlangsung IB dilakukan pemeriksaan kualitas semen beku. DI BIB Lembang digunakan dua macam tes, yakni after thawing test (uji setelah pencairan kembali dengan air hangat selama 15 detik) dan water incubator test (menyimpan semen dalam akuabides dengan suhu 37 derajat celcius selam 4-7 jam yag merupakan asumsi waktu tempuh sperma menuju ovum).

IB harus tepat waktu

Namun, semen beku dari para superbull yang didistribusikan ke segala penjuru Nusantara tidak akan berarti apa-apa jika fase akhir prosedur inseminasi tidak diterapkan semestinya. Inseminasi buatan merupakan teknik perkawinan dengan menggunakan alat berupa pipet atau insemination gun. Semen harus dideposisikan atau diinseminasikan pada saluran kelamin betina pada tempat dan waktu terbaik sehingga memungkinkan terjadi pertemuan antara sperma dan ovum sehingga berlangsung proses pembuahan.

Ukuran keunggulan pejantan atau keberhasilan IB pada umumnya ditandai dengan tingginya angka konsepsi (kebuntingan hasil inseminasi pertama) dan Non return Rate/NR (persentase hewan tidak kembali minta kawin) juga Service per Conception (S/C) atau jumlah inseminasi per kebuntingan, dsb. Faktor pejantan, prosesing semen beku, kondisi sapi betina, inseminator, cuaca ataupun pakan kerap kali berpengaruh terhadap keberhasilan IB. Sederhananya, Pak Amat sebagai peternak dituntut jeli mendeteksi tanda-tanda birahi (estrus) sapi betina miliknya. Bila ia terlambat melapor ke petugas inseminator, maka mesti menunggu periode estrus mendatang untuk bisa di-IB. Juga kekurangcakapan inseminator menguasai teknik inseminasi akan mengurangi keberhasilan program ini.

Keberhasilan itu bisa ditunjukkan dengan terlahirnya anak sapi bergenetik unggul padahal induknya sapi lokal. Maka mereka yang telah mewariskan sifat-sifat unggul itu pun pantas menyandang penjantan tangguh. (Dadan Wahyudin, di Bandung)


Inboks: Sekaligus Mengawini 800 Betina (MajalahIntisari - Edisi September 2002 hal 101)

SPERMA DALAM ANGKA



Seekor sapi jantan dalam sekali ejakulasi menghasilkan semen 5 – 8 ml dengan konsentrasi 1 satu miliar hingga 5,8 miliar sel sperma. Jumlah rata-rata sperma per ejakulat 4,8 miliar sel dengan sperma motil (agresif) berkisar 65%. Standar minimum bagi kualitas semen yang bisa diproses untuk IB minimal mengandung 500 juta sel per ml dan 50% sperma hidup dan motil. Setiap ml untuk pemakaian IB (dosis IB) harus mengandung sedikitnya lima juta sel sperma hidup dan motil.

Sedangkan untuk semen beku, karena 50% sperma mati gara-gara proses pembekuan, maka dosis IB sapi paling sedikitnya harus mengandung 12 juta sel sperma.
Sebagai contoh, pejantan Olivia II menghasilkan 5 ml semen per ejakulat dengan nilai D/+++/80 p. Perhitungan pengencerannya: 1 ml semen mengandung (80/100) x 1 miliar atau 800 juta sel sperma motil. Kadar pengencerannya sama dengan jumlah sel sperma dibagi dosis IB berarti 800 juta sel dibagi 5 juta sel = 160 dosis IB. Semen sapi Olivia II dengan volume 5 ml dapat diencerkan 5 x 160 = 800 dosis untuk menginseminasi 800 ekor sapi betina.

Sementara dosis IB mengunakan semen beku sapi yakni 12 juta sel sperma. Kadar pengencerannya: 800 juta sel dibagi 12 juta sel =66,67. Untuk 5 ml berarti 5 x 66,7 = 333 straw untuk menginseminasi 333 sapi betina dengan semen beku.

Namun perlu diingat, sekian miliar sel hidup dan motil itu berkompetisi menembus berbagai rintangan dan alangan, hingga akhirnya hanya satu sel sperma yang mencapai ovum (sel telur) sehingga terjadi fertilisasi. Sedangkan sisanya jutaan atau miliaran sel sperma itu mati sia-sia. (Dadan Wahyudin, di Bandung)

Catatan :
Tulisan ini memotivasi penulis selanjutnya untuk aktif menulis di media cetak.

Telaah Aspek "Musinnah" Hewan Kurban


Dokumentasi Kompas Cetak, 19 Des 2007

oleh : Dadan Wahyudin
(dimuat di Kompas Lembar Jawa Barat, 19 Desember 2007)

Musinnah dipandang sebagai hewan yang telah "dewasa" (cukup umur) dan sah dijadikan hewan kurban. Namun, literatur ilmu peternakan mengenal dua istilah "dewasa" dengan sudut pandang berbeda, yaitu dewasa kelamin dan dewasa tubuh. Dewasa kelamin (pubertas) pada hewan biasanya terjadi sebelum dewasa tubuh dicapai.



Pada domba jantan, periode pubertas terjadi pada umur 7-8 bulan dan sapi jantan 9-12 bulan, yaitu ditandai dengan kemampuan berkopulasi dan menghasilkan sperma, selain perubahan-perubahan kelamin sekunder lain. Adapun pubertas sapi betina terjadi pada umur 6-18 bulan dan domba betina 6-12 bulan yang dicerminkan dengan terjadinya gejala birahi (estrus) dan ovulasi.

Sementara istilah "dewasa tubuh" lebih mengacu pada volume pertumbuhan (ukuran tubuh) menuju kesempurnaan organ tubuh. Keduanya menemukan titik temu. Para peneliti menyarankan agar hewan-hewan muda tidak boleh dikawinkan terutama hewan betina muda sampai pertumbuhan badannya memungkinkan suatu kebuntingan dan kelahiran normal. Untuk mencapai hasil memuaskan, sapi dara direkomendasikan untuk dikawinkan pertama kali pada umur 18-24 bulan. Adapun domba tidak boleh dikawinkan sebelum umur 12 bulan. Berdasarkan argumen di atas, tampaknya mussinah hewan kurban cenderung lebih mendekati istilah "dewasa" menurut ukuran tubuh yang dicapai.

Akan tetapi, bagaimana meyakinkan calon pembeli bahwa hewan kurban yang dijual adalah hewan musinnah? Adakah parameter untuk menentukan umur hewan, mengingat pada umumnya hewan yang dijual di pasar hewan tidak disertai kartu catatan identitas hewan? Padahal dengan kartu identitas (recording) setidaknya dapat dijelaskan waktu kelahiran, berat lahir, berat sapih atau pun asal-usul induk. Ini penting untuk mengestimasi umur ataupun aspek produktivitas hewan tersebut.

Teknik menaksir umur hewan yang lumrah dijumpai adalah mengamati susunan gigi geligi hewan. Sama halnya dengan manusia, pergantian gigi dapat menjadi pertanda anak mulai sekolah, yakni umur 6-7 tahun. Hewan musinnah ditandai dengan pergantian gigi susu dengan sepasang gigi seri dewasa. Pergantian ini biasa disimbolkan dengan I (insisivus). Pada kambing dan domba, pertukaran gigi seri pertama (T-1) terjadi pada umur 1-1,5 tahun; diikuti sepasang gigi seri dewasa kedua (I-2) yang bertukar pada umur 1,5-2 tahun; I-3 bertukar pada 2,5-3 tahun dan I-4 bertukar pada umur 3-4 tahun.

Sementara pada sapi, pertukaran gigi I-1 terjadi pada umur berkisar 2 tahun; I-2 bertukar pada umur 2,5 tahun; I-3 bertukar pada tiga tahun dan I-4 bertukar pada umur 4 tahun. Proses perubahan berikutnya adalah pergesekan gigi hingga keausan gigi pertanda umur hewan telah cukup tua.

kebaikan hewan musinnah

Sapi dipotong pada umur muda (3-14 minggu) menghasilkan daging berwarna terang yang biasa dikenal dengan veal. Calf merupakan daging yang diperoleh dari pemotongan pedet (umur 14-52 minggu). Pemotongan hewan yang berumur muda tidak dibenarkan oleh pokok ketentuan syariat ibadah kurban. Secara awam pun maklum, secara kuantitas daging veal dan calf tidaklah memberi manfaat bagi orang banyak.

Potensi produktivitas secara maksimal seekor hewan menjelang umur musinnah sangat mungkin diperoleh. Seusai lepas sapih dari induknya (6-8 bulan), sapi memasuki pertumbuhan emas (golden growth). Fenomena ini dilirik perusahaan peternakan sapi dengan usaha penggemukan sapi bakalan (dry lot fattening). Dengan proses penggemukan sapi, dalam waktu relatif singkat dihasilkan sapi siap potong. Bayangkan sapi bakalan Australian Commercial Cross (ACC) yang berat awalnya sekitar 200-300 kg dengan pertambahan berat badan 0,8 kg/ekor/hari, dalam waktu tiga bulan mencapai bobot 250-400 kg.

Tingginya nilai ekonomis ini didapat karena hewan muda mampu mengonversi ransum sangat efisien. Volume pakan minimal (belum begitu banyak) efektif diserap tubuh untuk dikonversi dalam penambahan bobot badan. Oleh karena itu, pemeliharaan sapi jantan terus-menerus tanpa maksud tertentu, baik untuk pejantan maupun tenaga, akan merugikan sebab konversi pakan menjadi tidak seimbang. Hal itu ditandai dengan kenyataan bahwa sapi dewasa butuh pakan dalam volume besar, tetapi bobot badan cenderung konstan dan kualitas daging makin lama makin keras dan kasar.



Esensi pemotongan hewan musinnah memberi sesuatu yang istimewa bagi umat manusia. Selain perolehan kuantitas daging, hewan mussinah memberikan kualitas daging terbaik untuk konsumsi manusia. Daging disusun oleh komponen utama, yaitu jaringan otot (muscle tissue), jaringan lemak (adipose tissue), dan jaringan ikat (connective tissue). Daging hewan musinnah memiliki kandungan lemak intraselular optimal di dalam serabut-serabut otot (marbling) yang menjadikannya berasa lebih empuk, berasa kuat dan memiliki cita rasa tinggi. Itulah konsumsi istimewa. Sang Pencipta, melalui kesalehan hamba-Nya, memberikan daging pilihan, teruji, dan berkualitas kepada umat manusia.

Daging hewan yang dipotong pada usia tua cenderung berkualitas buruk, keras (alot) dan berlemak tinggi. Daging alot tidak nikmat untuk disantap. Sementara lemak jenuh tinggi berbahaya bagi kesehatan. Konsumsi makanan dengan lemak jenuh tinggi justru memicu kegemukan dan meningkatkan kadar kolesterol dalam darah. Meskipun diperlukan manusia untuk metabolisme tubuh dan secara alami telah diproduksi hati, kolesterol berpotensi menyumbat pembuluh darah dan berisiko tinggi penyebab penyakit jantung koroner atau stroke bila dikonsumsi berlebihan.


melindungi berbagai kepentingan

Pokok ketentuan aspek musinnah hewan kurban dengan bahasa singkat dan padat tetapi memiliki makna filosofis luas dan mampu melindungi berbagai kepentingan. Manusia memperoleh daging sebagai sumber pangan bergizi, sehat dan berkualitas. Aspek musinnah pun mampu melindungi populasi hewan kurban secara futuristik. Dalam prosesi ibadah kurban, anak dan induk tidak termasuk kriteria hewan kurban yang boleh dipotong.

Dengan demikian, proses regenerasi hewan kurban tidak terhambat sehingga Idul Adha di tahun depan, dengan selisih satu tahun, bakal diperoleh hewan-hewan musinnah baru yang sekarang belum masuk kriteria. Proteksi terhadap induk hewan membuat induk tersebut leluasa melahirkan generasi selanjutnya.

Aspek musinnah ibadah kurban pun memberi pembelajaran, yaitu mencegah kerakusan dan ketamakan manusia dalam mengeksploitasi hewan (baca: alam) secara berlebihan. Nilai-nilai kearifan makna musinnah hewan kurban dapat menjadi refleksi, inspirasi dan landasan perilaku bagi manusia, terutama pengambil kebijakan, agar bijaksana dalam menjaga keseimbangan lingkungan sehingga alam pun memberi segala manfaat dan lestari.

Penulis, Dadan Wahyudin
Praktisi Peternakan

Jumat, 23 Januari 2009

ASYIKNYA MENAKSIR HEWAN KURBAN



OLEH: DADAN WAHYUDIN
(dimuat Kompas Lembar Jawa Barat, Jum'at 5 Desember 2008 hal K)


Jual-beli hewan kurban pada praktiknya lebih banyak dilakukan dengan cara ditaksir. Calon konsumen cukup menilik (memeriksa) dengan cara mengamati secara visual performa hewan kurban dan ketika dirasa cocok, transaksi pun jadi.

Untuk mendapatkan hewan kurban ideal yakni gagah, sehat, cukup umur dan memiliki bobot yang diinginkan harus dilakukan melalui pemeriksaan fisik (antemortem) secara detail. Begitu pula untuk memastikan secara akurat berat badan atau umur ternak diperlukan timbangan ternak dan kartu catatan riwayat hidup ternak (recording) mirip akta kelahiran.

Akan tetapi, mengharapkan semua hal di atas pada pedagang hewan kurban di pinggir jalan sesuatu yang hampir mustahil. Timbangan hewan cukup berat dan mahal, biasanya dimiliki perusahaan peternakan besar. Sementara peternak kita belum terbiasa melakukan pencatatan (recording) terhadap ternak miliknya, sehingga umur ternak sulit diketahui.

Namun, kita tak perlu pesimis. Teknik menaksir ternak biasa dilakukan oleh para blantik dan diuji-cobakan para peneliti ternyata memberikan hasil mendekati kondisi hewan sebenarnya. Dengan cara menaksir, kondisi fisik, bobot badan, maupun umur hewan kurban dapat segera diketahui sebagai syarat sah ibadah kurban.

Pada hakikatnya, begitu kita tiba di lokasi penjualan hewan kurban, kita sudah dihadapkan pada proses menaksir, yakni melihat, mengamati, dan memeriksa kondisi fisik hewan kurban secara visual. Agar pemeriksaan lebih objektif, si pemeriksa harus berada sekitar 1-2 meter dari objek. Hewan harus ditempatkan di tempat rata. Bila berada di lokasi lebih tinggi dari si pemeriksa akan berkesan lebih besar. Sebaliknya tampak lebih kecil bila ditempatkan di tanah lebih rendah.

Dengan pengamatan visual saja, hewan kurban sudah bisa dilihat dari segi kesehatan: sehat, sakit atau cacat. Hewan sehat dicirikan oleh bentuk tubuhnya standar (normal), mata jernih, perangai lincah, nafsu makan baik - dicoba dengan memberi hijauan - dan warna kulit cerah. Sebaliknya gejala hewan sakit dapat diamati tampak lendir pada mata, hidung, atau anus; sorot matanya sayu; kurus karena nafsu makan rendah; dan gerakannya lambat. Hal ini perlu diwaspadai, karena meskipun Indonesia dinyatakan bebas penyakit mulut dan kuku (1986) dan sapi gila (2002), namun belum terbebas dari penyakit zoonosis lainnya yaitu antraks. Beberapa daerah masih menjadi endemik penyakit disebabkan bakteri Bachillus Anthracis ini.

Untuk hewan kurban, Rasulullah SAW melarang hewan cacat. Tanduk pecah, kaki pincang atau telinga putus dapat dilihat secara kasatmata. Sementara hewan dengan kondisi buta dapat dicoba dengan mengibaskan telapak tangan di dekat bola matanya, bila tidak berkedip maka dipastikan buta dan tidak sah untuk hewan kurban.



menaksir berat dan umur

Bila dicermati, penampang tubuh sapi dan domba menyerupai bentuk geometris berupa tabung. Untuk mencari volume tabung harus diketahui luas alas dan tinggi. Dalam hal ini, lingkar dada hewan dapat diasumsikan sebagai luas alas dan panjang badan sebagai tinggi. Lingkar dada diperoleh dengan melingkarkan seutas tali di belakang gumba melalui belakang belikat. Sementara panjang badan diukur dari bahu hingga penonjolan tulang duduk. Dengan memperhatikan volume organ kepala, kaki, ekor, dan massa jenis daging atau jeroan bakal diperoleh pendekatan untuk memperoleh berat hewan sebenarnya.

Melalui berbagai percobaan, Schoorl menemukan rumus untuk mengetahui berat badan dengan cukup mengetahui satu komponen, yakni lingkar dada. Rumus itu dinamai namanya sendiri rumus Schoorl yaitu Bobot Badan (kg) = {lingkar dada (cm) + 22} dikuadratkan dibagi 100. Sementara Scheiffer mengadopsi rumus tabung dengan menampilkan formula, yakni Bobot Badan (lubels) = {lingkar dada (inchi) kuadrat x panjang badan} (inchi) dibagi 300. Rumus ini disesuaikan oleh Lambourne dengan mengonversi ke dalam satuan yang cocok dengan kehidupan masyarakat kita, yakni Bobot Badan (kg) = {lingkar dada (cm) kuadrat x panjang badan (cm)} dibagi 10840.

Dokumentasi versi Cetak, Kompas, 5 Dember 2008

Sejumlah peneliti mencoba membuktikan keakuratan rumus-rumus itu diuji-cobakan terhadap beberapa kelompok sapi antara bobot taksir dan bobot timbangan. Hasilnya rumus Scheiffer dan Lambourne lebih mendekati berat real sapi sebenarnya dengan tingkat kesalahan di bawah 10 persen. Sedangkan rumus Schoorl tingkat kesalahannya mencapai 22,3 persen. Perbedaan perhitungan berat pada mahluk hidup adalah wajar, karena bobot hewan sangat dipengaruhi situasi dan kondisi lingkungan, yakni gelisah (stress), habis makan, banyak minum atau baru buang feses. Hewan yang ditimbang sekalipun, akibat buruk perlakuan dan pengangkutan dapat menyebabkan susut tubuh 5-10%.

Dengan memperoleh angka taksiran bobot hidup, maka persentase karkas dan daging dapat segera diketahui. Karkas sapi berkisar 47-57 persen dari bobot hidupnya dan daging 75 persen dari karkas. Karkas adalah potongan daging tulang tanpa kepala, kaki, kulit dan jeroan. Untuk domba persentase karkasnya sekitar 45 persen dan dagingnya 75 persen dari karkas. Kalkulasi ini sangat penting untuk dapat memperkirakan jumlah daging dibandingkan jumlah mustahik (penerima daging kurban) juga dapat dijadikan perbandingan harga apakah hewan kurban yang dibeli terlalu mahal atau tidak dibanding harga pasaran.



Satu lagi penting kemampuan menaksir amat penting sebagai syarat sah hewan kurban yaitu menaksir umur. Umur ternak dapat diketahui berdasarkan susunan gigi geliginya. Mintalah si penjual memperlihatkan susunan gigi seri (berada di rahang bawah). Bila gigi seri dewasa telah tumbuh (tampak besar dan kuat seperti kapak, gigi susu kecil-kecil seperti sisir jagung muda), maka hewan dipandang dewasa/cukup umur (musinnah). Pada domba dan kambing perubahan ini terjadi pada umur 1-1,5 tahun dan sapi 2-2,5 tahun.

Kemampuan menaksir ini akan semakin baik dan hasil makin akurat bila sering diasah. Bagi yang sudah mahir seperti blantik atau bakul hewan, kegiatan menaksir hewan cukup ditilik dari atas mobil atau sepeda motornya. Paling banter mereka cukup meraba punggung untuk menentukan gemuk atau kurus. Selain asyik, kegiatan menaksir juga dapat meyakinkan hewan kurban yang dipilih kita sempurna sesuai pokok ketentuan ibadah kurban sehingga dapat melipatgandakan pahala kita di hadapan-Nya. (**)

DADAN WAHYUDIN
PRAKTISI PETERNAKAN

Senin, 19 Januari 2009

Kearifan Ibadah Kurban




Dokumentasi Cetak, Kompas, 29 Des 2006

Jumat, 29 Desember 2006

Forum
Kearifan Ibadah Kurban

Oleh Dadan Wahyudin
(dimuat di Kompas, Lembar Jawa Barat, 29 Desember 2006)

Momentum hari raya Idul Adha (10 Zulhijah) mengandung banyak nilai dan pelajaran yang hikmahnya bisa dipetik untuk kemaslahatan hidup umat manusia. Ditinjau dari perspektif bidang peternakan, pelaksanaan Ibadah Kurban memberi pengaruh signifikan terhadap aspek ekonomi dan spirit budidaya hewan kurban di kalangan peternak.

Sementara itu, persyaratan maksimal terhadap hewan kurban, hakikatnya merupakan jaminan proteksi bagi umat manusia untuk mengonsumsi produk daging yang layak, aman, berkualitas, dan sebagai perlindungan bagi pelestarian hewan kurban di masa depan. Dalam hubungan vertikal (hablum minallah), kesempurnaan kurban merupakan bentuk ubudiah persembahan seorang hamba kepada Sang Pencipta. 


Perintah kurban bermula tatkala Allah SWT memberikan titah kepada Nabi Ibrahim AS untuk menyembelih putra tercintanya Nabi Ismail AS. Itu merupakan suatu pengorbanan luar biasa. Sebab, Nabi Ismail merupakan anak yang didambakan sejak puluhan tahun, tetapi tiba-tiba harus dijadikan kurban, dan nyawa sang anak harus direnggut melalui tangan ayah sendiri. 

Rezeki bagi peternak
Sesuai tradisi menjelang Idul Adha, peternak bakal kebanjiran order. Adalah kemurahan Allah bahwa hewan yang lazim dipakai kurban oleh masyarakat adalah hewan hasil budidaya kalangan peternak kecil dalam skala keluarga di pedesaan. Sangat jarang sapi-sapi impor skala perusahaan, seperti sapi efha, simental, angus, hereford, atau australian commercial cross (ACC) digunakan sebagai kurban. Masyarakat lebih menyukai sapi-sapi lokal, seperti sapi onggol, sapi bali, dan sapi madura. 

Momentum Idul Adha mampu menciptakan geliat perekonomian hingga ke pelosok daerah. Tidak hanya para belantik atau bakul hewan yang ingar-bingar turun ke kampung-kampung. Kini juga banyak konsumen yang berburu hewan kurban langsung ke lokasi peternak. 

Persaingan ini membawa keuntungan bagi peternak dengan disparitas harga mencolok yang berbeda ketika harga ditentukan tengkulak. Adanya nilai surplus secara ekonomi (fee) adalah bentuk kemurahan rezeki-Nya bagi kalangan keluarga peternak sekaligus insentif yang menarik minat untuk melakukan budidaya lebih intensif. 

Dalam kacamata peternakan modern, hewan betina dianggap hewan produktif sebagai "mesin uang harian" peternak. Sebaliknya, hewan jantan memiliki fungsi terbatas, yaitu sebagai produk daging atau tenaga. Selebihnya, khusus hewan jantan unggul digunakan sebagai pemacek, terkait proses reproduksi untuk mempertahankan kelangsungan generasinya. 

Padahal, secara alamiah persentase kemungkinan lahir (natalitas) individu jantan dan betina berpeluang sama besar (50:50). Akan tetapi, adanya seleksi dan pembatasan jumlah pejantan dengan penerapan sex ratio (perbandingan jumlah hewan jantan dan betina dalam suatu pembibitan) mengakibatkan tingginya apkir hewan jantan. Popularitas hewan jantan makin tereduksi manakala bioteknologi, seperti inseminasi buatan dan embrio transfer, mulai diimplementasikan di tingkat peternak. Bahkan, teknologi reproduksi kloning mengesampingkan penggunaan pejantan sama sekali.
Penggunaan hewan jantan dalam ritual Ibadah Kurban bukan saja diperintahkan dalam syariat, melainkan didukung juga oleh kajian ilmiah dengan argumentasi yang kuat dan memiliki nilai strategis dalam menjaga kelestarian populasi hewan kurban. 
 
Sebuah jawaban dan bukti kearifan yang menjangkau jauh ke depan memberikan pemecahan masalah regenerasi hewan kurban di masa depan. Andai saja hewan betina yang dijadikan hewan kurban, populasi unta, sapi, domba, atau kambing dalam hitungan dua-tiga tahun bakal punah.


Hal yang menjadi kendala di lapangan adalah tak lazim, peternak kita memiliki kartu catatan identitas (recording) ternak, seperti tanggal kelahiran, berat lahir, berat sapih, maupun asal-usul induk sehingga bisa saja umur dikelirukan. Namun, kita jangan dulu pesimistis. Sebuah teknik menaksir umur ternak banyak dipakai masyarakat, yaitu dengan melihat susunan gigi geligi yang mendekati keakuratan. Hewan umur musinnah ditandai digantikannya gigi susu dengan sepasang gigi seri dewasa (insisivus).

Penetapan ketentuan umur musinnah dalam kajian bidang peternakan memiliki beberapa aspek menguntungkan meliputi: 

1. Aspek produktif. Adanya proteksi hewan pra-musinnah beralasan karena hewan sedang pada tahap akselerasi pertumbuhan (high-growth) sehingga sangat produktif serta efisien mengonversi pakan ke dalam penambahan bobot badan. Adapun pasca-musinnah angka konversi menjadi kurang efektif karena berat badan cenderung konstan dikarenakan proses selanjutnya berupa pematangan organ-organ (maturity). 

2. Aspek kualitatif. Fase ini merupakan fase daging berkualitas prima, empuk, serat daging tersebar merata, tidak berlemak, serta warna segar (fresh): sebuah konsumsi istimewa bagi orang yang seleranya selalu menginginkan hal terbaik. Berbeda dengan daging cempe atau pedet yang berserat, lembek, berlendir, dan berbau anyir. Daging hewan tua bakal alot, keras, dan berkadar lemak tinggi. 

3. Aspek normatif. Ibadah Kurban mengajarkan sebuah eksploitasi beretika dan tanggung jawab. Dengan pemotongan umur tertentu, anak-anak hewan kurban terlindungi dari eksploitasi berlebihan sekaligus mempersiapkan stok kurban tahun berikutnya. 

Harus sehat
Performa hewan sehat dapat dikenali melalui ciri-cirinya, yaitu mata jernih, lincah, nafsu makan baik, dan warna kulit tampak cerah. Adapun gejala hewan sakit antara lain tampak lesu dan pucat; tampak lendir pada mata, hidung, kulit, dan anus; kurus karena nafsu makan rendah; gerakannya lambat. Rasulullah SAW melarang para sahabat untuk menyembelih hewan kurban sakit atau memiliki cacat tubuh, seperti tanduknya pecah, telinga sobek melebihi separuh, mata buta, atau dengan kata lain hewan kurban harus sempurna. 

Dari segi kesehatan, hewan kurban harus terbebas dari penyakit berbahaya bagi manusia (zoonosis). Penyakit yang tidak ditoleransi untuk dikonsumsi antara lain adalah apthae epizootical (PMK), bovine spongiform enchephalophaty (sapi gila), dan antraks.



Pesan itu mengingatkan kalangan peternak untuk senantiasa memelihara kebersihan dan sanitasi kandang, pencegahan penyakit (vaksinasi), pemberian pakan berimbang, dan tata laksana pemeliharaan yang sehat.

Ibadah Kurban telah mengajarkan dengan gamblang segala kearifan dan sikap bijak perihal eksploitasi hewan kurban secara beretika. Dengan kearifan pula, pemotongan hewan kurban, berapa pun jumlahnya, tak akan membuat punah spesies ini dari muka Bumi.
Ketersediaan stok tahun berikutnya tak terpengaruh sedikit pun oleh banyaknya hewan kurban yang disembelih. Mengapa? Sebab, untuk hewan kurban ada proteksi berupa larangan terhadap eksploitasi induk dan anak hewan belum cukup umur sehingga proses regenerasi tidak pernah terganggu. 

Hal tersebut dapat menyadarkan kita akan pentingnya keserasian hubungan antara manusia dan lingkungan yang harus senantiasa terjaga dalam keseimbangan. Berkaca dari segala kearifan tersebut, kita bisa memetik pelajaran berharga tentang bagaimana seharusnya memanfaatkan sumber daya alam secara proporsional dengan memerhatikan kelestarian lingkungan untuk kemakmuran umat manusia. 

DADAN WAHYUDIN Praktisi Peternakan
Gazelle '91 -Fapet Unpad